13 Februari 2009

[media-riau] Fw: [pantau-komunitas] Wartawan Tribun Batam Dipukuli depan Polisi

Wartawan Dikeroyok di Depan Polisi

Porter dan Petugas Pelni Bentrok

Keributan di Pelabuhan Beton Sekupang kembali terjadi, Rabu (11/2) kemarin, sekitar pukul 14.00 WIB. Salah seorang porter diduga memukul petugas Pelni di tangga naik ke kapal. Tak hanya petugas Pelni, seorang wartawan yang mengambil gambar kejadian juga dipukul. Ironisnya, kejadian pemukulan terjadi di depan polisi.


Kejadian ini berawal saat penumpang naik ke KM Kelud tujuan Jakarta. Tak hanya penumpang, para porter juga berdesakkan naik di tangga keberangkatan. Awalnya kegiatan porter naik turun ke kapal mengangkut barang berjalan dengan tertib. Selain anggota Polsek KPPP Poltabes Barelang, di tangga naik ke kapal juga anggota TNI Angkatan Laut (AL), KPLP dan petugas Pelni.


Keributan antara salah seorang porter dengan petugas Pelni diawali saat salah seorang penumpang wanita yang membawa anaknya yang masih bayi hampir terjepit di tengah banyaknya penumpang dan porter yang berdesakkan di tangga. Anggota TNI AL yang berada di tangga kemudian meminta porter untuk turun karena ada anak terjepit.


Porter tersebut tetap ngotot naik. Salah seorang petugas Pelni yang berada di tangga juga ikut melarang porter kembali naik. Cekcok mulut terjadi, porter itu kemudian memukul petugas Pelni itu. Anggota TNI AL yang ada di tangga terlihat menarik porter yang memukul itu turun dari tangga. Sejumlah porter berdatangan ke arah dekat tangga.


Fotografer Tribun Batam, Nurul Iman, yang akrab disapa Inyonk, yang melihat ada kejadian keributan langsung mengambil gambar. Aksi ini membuat marah para porter. Mereka mendekati Inyonk, di antara mereka ada yang menarik kamera dan memukul.


"Kejar wartawan itu. Ambil kameranya, pukul saja. Buang ke laut. Mereka bikin kita susah," kata sejumlah porter yang mengepung Inyonk yang saat ini berada di depan tangga naik ke kapal.


Inyonk yang saat itu memakai helm sempat dipukul di bagian kepala. Melihat rekannya terancam keselamatannya, wartawan Tribun Batam yang juga ada di lokasi, Zabur Anjasfianto berusaha melindungi Inyonk yang jadi bulan-bulanan. Zabur juga sempat dipukul dari belakang. Salah seorang anggota KPLP juga berusaha melindungi.


Sejumlah anggota Polsek KP3 Poltabes Barelang hanya membiarkan saja peristiwa ini terjadi. Kanit Reskrim Polsek KPPP Poltabes Barelang, Aipda Robinsar Tampubolon juga di lokasi kejadian. Beberapa anggota Samapta Polda Kepri juga ada di sana. Tak ada satupun anggota polisi yang mengamankan para porter.


"Wartawan keluar dulu dari pelabuhan. Suasananya masih panas," kata Robin kepada wartawan koran ini.
Inyonk mengaku beberapa kali dipukul di bagian kepala. "Untung saya pakai helm. Saya setiap masuk pelabuhan beton, selalu pakai helm," kata Inyonk.


Kameranya, kata dia, sempat ditarik porter, tapi dia kembali bisa menariknya lagi. Saat dikepung, ia sempat berteriak sekeras-kerasnya sehingga para porter juga terkejut mendengarnya. "Mereka ramai sekali mengepung. Tak tahu juga tiba-tiba saya berteriak saja sekerasnya," ujarnya.


Zabur juga mengaku punggungnya kena pukul. Ia juga sempat membalas memukul karena kondisinya dalam terkepung. Ia menyayangkan polisi membiarkan peristiwa ini terjadi. "Inyonk saat itu saya pegang, jadi saya yang jadi sasaran. Ada petugas KPLP yang juga menyelamakan Inyonk," katanya.

Kriminalisasi Pers


Aksi pemukulan terhadap dua wartawan ini dikecam Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kepri dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Batam.
Ketua PWI Kepri, Ramon Damora mengatakan, aksi ini melecehkan wartawan. "Siapapun yang menghalangi tugas jurnalis untuk memperoleh informasi tidak dibenarkan. PWI Kepri mengutuk aksi-aksi kriminalisasi terhadap pers semacam ini," tegas Ramon.


Ramon meminta dukungan semua wartawan untuk mendukung dua wartawan Tribun Batam yang menjadi korban pemukulan tersebut untuk mendapatkan hak-hak hukumnya dan membela marwah kehidupan pers yang sehat di Provinsi Kepri ini.


Koordinator Advokasi AJI Batam Muhammad Nur, juga menyayangkan aksi pemukulan tersebut. Ia berharap, kasus ini bisa diusut tuntas.
Kasat Reskrim Poltabes Barelang, Kompol Himawan Bayuaji yang mendapat informasi kejadian ini, kemarin sore, mengundang wartawan ke kantornya untuk menjelaskan kejadian ini. Dia kemudian mengundang Kapolsek KPPP Poltabes Barelang AKP Furqon Budiman, perwakilan porter, Pelni dan sejumlah pihak terkait membahas soal ini.


"Kita jamin keamanan wartawan yang menjalankan tugas. Kita cek dulu pada pihak terkait lainnya soal kasus ini," kata Himawan di ruangan kerjanya.


Ketua Koperasi Porter Pelabuhan Dermaga Beton Sekupang, Simson alias Patika mengaku, anggotanya terpancing emosi di lapangan karena pemberitaan di media cenderung menyudutkan porter. "Rabu lalu porter diberitakan memukul petugas Bea Cukai. Kami bantah, tak ada anggota saya yang memukul," ujar Patika.(batampos).

----------


AJI Batam Akan Siapkan Pengacara

Dampingi Wartawan yang Dianiaya


BATAM (BP) - Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Cabang Batam mengecam aksi pemukulan yang dilakukan porter di Pelabuhan Sekupang, Batam kepada dua wartawan Tribun Batam yang sedang meliput di Pelabuhan Sekupang, Rabu (11/2). Ampuan Situmeang sudah menyatakan kesediannya menjadi penasehat hukum.

Aksi pemukulan terhadap Nurul Iman, Zabur, fotografer dan wartawan Tribun Batam, menyebabkan tulang jari kaki Zabur patah dan luka memar di bagian tubuhnya.
AJI Batam mengecam keras aksi penyerangan yang dilakukan terhadap wartawan. AJI meminta Poltabes Barelang untuk menangani aksi pemukulan jurnalis itu secara serius.

"Tindakan pemukulan yang dialami dua wartawan Tribun Batam merupakan upaya penghalangan kerja jurnalistik sebagaimana diatur dalam UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. Kami mengimbau masyarakat untuk memahami kerja jurnalistik yang sejatinya merupakan perwujudan dari pemenuhan hak masyarakat untuk memperoleh informasi," ujar M Nur, Ketua Devisi Advokasi AJI Batam, kemarin.

Dua jurnalis Tribun itu melapor ke polisi. AJI Batam akan menggunakan pengacara untuk mendampingi dua wartawan yang dianiaya oleh porter di Pelabuhan Sekupang. "Pengacara Ampuan Situmeang bersedia mendampingi dau wartawan Tribun sampai ke proses Pengadilan," kata Nur.

Menurut Nur, siapapun yang menghalangi tugas wartawan dalam mencari berita dikenakan hukuman penjara dua tahun dan denda Rp500 juta. "Hukuman itu sesuai dengan Undang-Undang Pers No 40 Tahun 1999," tegas Nur.

Untuk itu, AJI Batam meminta aparat kepolisian segera menuntaskan masalah ini. "Apalagi polisi sudah mengantongi nama-nama pelaku yang melakukan pengeroyokan," tambah Nur.

Dari catatan AJI, selama kurun 2008 kekerasan terhadap jurnalis terdapat 60 kasus kekerasan. Jenis kekerasan tersebut meliputi: serangan fisik (21 kasus), ancaman (19 kasus), pengusiran dan larangan meliput (9 kasus), tuntutan hukum (6 kasus), sensor (3 kasus), demonstrasi (1 kasus), dan penyandraan (1 kasus).

Pelaku ancaman tersebut datang dari berbagai kalangan. Pelaku paling banyak adalah: massa pendukung salah satu calon dalam pemilihan kepala daerah (20 kasus), aparat pemerintah (11 kasus), anggota polisi (11 kasus), anggota TNI (8 kasus), hakim (3 kasus), aktivis LSM (2 kasus), orang tidak dikenal (4 kasus), dan preman (1 kasus).

Wilayah yang paling berbahaya bagi jurnalis dalam meliput selama 2008 adalah: Gorontalo (11 kasus kekerasan), Jakarta (9 kasus kekerasan), dan Ternate (4 kasus kekerasan). Jangan sampai Batam atau Kepri masuk ke dalam daerah yang tergolong keras untuk jurnalis meliput.

Selain itu, sepuluh tahun sejak negeri ini menjalankan reformasi, indeks kebebasan pers Indonesia justru mengalami penurunan. Menurut laporan tahunan Reporters Sans Frontieres, organisasi jurnalis yang memperjuangkan kebebasa pers di dunia, indeks kebebasan pers Indonesia tahun ini menurun dari posisi 100 tahun lalu ke posisi 111 tahun ini. Selama ini, indeks kebebasan pers tersebut dipercayai oleh publik internasional sebagai tolok ukur demokrasi di suatu negara.

AJI menghimbau masyarakat agar tidak menghalang-halangi jurnalis yang meliput, apalagi menggunakan cara-cara kekerasan untuk memblokade pemberitaan. Kekerasan terhadap pers bukan hanya tindak kriminal yang diancam pidana, namun juga melanggar hak masyarakat untuk mendapat informasi. (AJI Batam)




 
----- Original Message -----
Sent: Thursday, February 12, 2009 4:30 AM
Subject: [pantau-komunitas] Wartawan Tribun Batam Dipukuli depan Polisi




Sikap Peduli Lingkungan?
Temukan jawabannya di Yahoo! Answers!

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Finance

It's Now Personal

Guides, news,

advice & more.

Drive Traffic

Sponsored Search

can help increase

your site traffic.

Cat Groups

on Yahoo! Groups

Share pictures &

stories about cats.

.

__,_._,___

Tidak ada komentar: