29 Januari 2009

[media-riau] Celoteh Wilson Lalengke - Kekuatan Media Massa = Kekuatan Tuhan?

 
 
Pewarta-Indonesia, "Siapa menguasai informasi dia menguasai dunia". Hampir semua orang yang mendengar ungkapan tersebut percaya akan kebenarannya. Dan ini memang bukan omong kosong, realitas telah memberikan bukti di sepanjang sejarah manusia. Seseorang yang memiliki informasi selalu memenangkan (baca: menguasai) setiap kesempatan yang ada. Tidak sulit untuk dipahami mengapa pelajar-pelajar di luar negeri, terutama yang dibiayai oleh program beasiswa pemerintah maupun organisasi pemberi beasiswa, didominasi oleh anak-anak dari Jakarta. Bilapun terdapat mereka dari luar daerah, paling tidak hampir dipastikan mereka adalah dari kota-kota besar di Jawa, dan sebagian terkecil lagi dari luar daerah. Hal ini disebabkan oleh tingginya disparitas atau perbedaan tingkat penyebaran informasi antara Jakarta (termasuk kota-kota besar) dengan daerah lain di Indonesia. Jakarta adalah pusat hampir semua informasi dalam negeri di Indonesia. Perbedaan ini secara sadar atau tidak telah menciptakan "perbedaan hak" mendapatkan kesempatan belajar melalui beasiswa antara masyarakat ibukota dengan daerah-daerah di nusantara.

Paling tidak ada dua unsur utama yang dapat digunakan untuk menjelaskan mengapa perbedaan akses informasi itu menyebabkan "perbedaan hak" bisa terjadi. Pertama, momentum mendapatkan informasi. Rentang waktu diterimanya sebuah informasi yang berbeda antara masyarakat Jakarta dengan mereka yang berdiam di daerah menyebabkan pemilik informasi tercepat yang notabene berdomisili di Jakarta mendapat "hak" lebih cepat yang memungkinkan dia mempunyai peluang lebih besar dibandingkan dengan mereka yang mendapatkan informasi terkemudian. Kedua, jarak akses antara penerima informasi dengan sumber informasi. Semakin dekat seseorang dengan sumber informasi maka dia akan menguasai informasi itu lebih utuh, akurat dan tepat waktu yang pada gilirannya akan memberinya ruang yang cukup untuk mempersiapkan diri mengantisipasi peluang-peluang yang tersedia. Sebagai pusat informasi nasional, masyarakat Jakarta sangat diuntungkan dan akhirnya lebih menguasai kesempatan-kesempatan untuk maju dan berkembang, tidak hanya di bidang pendidikan seperti ilustrasi di atas, tetapi juga di hampir semua sektor hidup kemanusiaan dan kenegaraan kita.

Peran informasi, sesederhana apapun bentuk dan sistem informasi itu adanya, tidak pelak merupakan penentu keberhasilan usaha apapun yang dilakukan setiap orang. Kemenangan dan kegagalan dalam sebuah peperangan amat ditentukan oleh kehandalan agen spionase dan inteligen yang tugas utamanya mengumpulkan informasi dari musuh masing-masing pihak yang bertikai. Kemajuan penjualan produk sebuah perusahaan, yang menjadi tumpuan mati-hidupnya perusahaan itu, sangat tergantung kepada peran promosi dan iklan yang tidak lain berisi informasi tentang produk dan proses menginformasikannya kepada calon konsumen. Keberhasilan pendidikan tiada terlepas dari kualitas informasi dan metode transformasi informasi tentang ilmu pengetahuan antara pengajar dengan pembelajar di lembaga-lembaga pendidikan. Bahkan keberhasilan pertanian di masyarakat tradisional di jaman pra-sejarah – masyarakat buta huruf – juga ditentukan oleh ketersediaan informasi yang umumnya didapatkan dari tanda-tanda alam seperti bintang, arah angin, bunga tumbuhan tertentu hingga suara dan gerak khusus binatang sekitar. Menurut penelitian terbaru di China, bahkan bencana alam dapat diantisipasi melalui informasi berupa sinyal-sinyal khusus yang diberikan oleh ular.

Diera moderen yang penuh kompleksitas saat ini, peran informasi justru tidak dapat diabaikan sama sekali. Informasi adalah hidup manusia itu sendiri. Merasuk dan menentukan segalanya di bidang apapun jua. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sistem transformasi atau lalu lintas informasi juga berkembang, berubah, menyesuaikan diri dengan situasi dan tuntutan kebutuhan zamannya. Dahulu kala masyarakat hanya mengandalkan berita dari orang per orang melalui proses verbal, suara dari mulut ke mulut, dan kemudian berkembang kepada bentuk tulis dan baca. Pada mulanya manusia hanya mampu saling berkomunikasi antar individu satu dengan seorang individu lain, sementara saat ini seseorang bisa menyampaikan informasi kepada banyak orang bahkan tiada terhitung jumlah penerima informasinya. Dalam hal sistim pertukaran informasi seperti terakhir ini, dari satu pihak kepada banyak orang/pihak, manusia membutuhkan wadah khusus yang dinamakan "media massa".

Sebagai pilar utama penghimpun dan penyampai berbagai informasi, media massa beroleh tempat yang maha tinggi dalam konstelasi interaksi kehidupan manusia, bangsa, negara, dan antar negara di tingkat internasional. Bagaimana tidak, media massa telah menjadi rumah produksi bagi menghasilkan informasi (termasuk data-data) yang akan didistribusikan bagi warga masyarakat banyak sebagai konsumen berbagai informasi itu. Oleh karennya bukan suatu yang aneh jika sebahagian terbesar orang percaya bahwa takdir manusia sesungguhnya ditentukan oleh media massa. Sukes dan bangkrutnya seorang pengusaha, misalnya, dapat dikendalikan oleh keinginan media massa. Kasus mantan pimpinan Bank Dunia dan British Petroleum, Paul Wolfowitz dan Edmund John Philip Browne, hanya dua kasus yang terjadi pertengahan tahun lalu sebagai contoh saja. Kejatuhan tragis mereka adalah sukses besar hasil kerja media yang telah mengekspos berbagai informasi tentang skandal yang melingkupi kehidupan keduanya. Padahal kualifikasi mereka sebagai pejabat professional sangat sulit dicari bandingannya, mereka memiliki reputasi kerja terbaik di bidangnya masing-masing, cerdas, disiplin dan disegani di tingkat dunia. Tapi semua itu tidak bermakna sama sekali di tangan media massa.

Di bidang politik dan pemerintahan negara, peran dan kekuatan media massa tidak berbeda, bahkan cenderung lebih berkuasa. Bila kita sering mendengar slogan "politik adalah panglima" atau "hukum adalah panglima", maka semua itu amat diragukan kebenarannya. Yang banyak orang setuju justru "media massa adalah raja", dan bahkan lebih ekstrim lagi: "media massa adalah hukum". Lihat saja buktinya bertebaran di mana-mana. Media massa dapat menentukan siapa yang harus jadi presiden, siapa bakal gubernur dan bupati, bahkan kemana arwah Suharto setelah wafat. Media massa yang menentukan mati hidupnya Tibo, cs serta Amrosi, dan kawan-kawan. Tidak sukar sebenarnya menduga mengapa proses penyelesaian masalah bencana Lumpur Lapindo di Sidoarjo itu bisa berlarut-larut dan bahkan sangat mungkin tidak akan pernah selesai. Penyebab utamanya adalah karena media massa tidak berpihak kepada para korban, rakyat kecil yang tidak memiliki apa-apa untuk "menjamu" para pemilik dan pekerja media massa mainstream nasional. Akibatnya, berita-berita tentang persoalan Lapindo hanya sebatas basa-basi, laporan pandangan mata, kutip pendapat sana-sini, dan seterusnya, bahkan cenderung mengelabui masyarakat pengonsumsi informasi yang disajikan.

Bila dicermati dengan teliti, sesungguhnya perubahan-perubahan besar dan mendasar yang terjadi sepanjang sejarah-sejarah dunia, dan juga Indonesia sebagai sebuah negara, justru boleh berlangsung karena kerja media massa. Perjuangan kemerdekaan dan keberhasilan mempertahankannya tidak lain merupakan buah dari selebaran dan surat kabar gelap yang digencarkan oleh para tokoh perintis kemerdekaan waktu itu. Turunnya Soekarno dari tampuk pemerintahan di pertengahan dekade 1960-an dan menaikkan Soeharto, pada hakekatnya bukan pekerjaan gerakan pemuda dan mahasiswa. Demikian juga peristiwa lengsernya Soeharto di pertengahan tahun 1998, yang oleh hampir semua kalangan dianggap sebagai mbah koruptor yang bakal melegenda sepanjang masa, tidaklah pas untuk dikatakan sebagai hasil perjuangan mahasiswa dan pemuda Indonesia. Peran mereka secara kasat mata dalam setiap epilog sejarah bangsa memang benar adanya. Tetapi sesungguhnya, aksi-aksi mereka (pemuda dan mahasiswa) dengan turun ke jalan hanyalah sebuah kekuatan semu sebagai hasil ciptaan media massa. Dengan lain kata, pemuda dan mahasiswa tidak lebih dari bidak-bidak catur media massa yang menjadi salah satu komponen bagi permainan media informasi saja. Kehandalan dan kelihaian media massa sebagai mesin produksi yang menghasilkan ramuan informasi yang jitu, siap saji dan disuapkan kepada masyarakat, inilah sebenarnya kekuatan maha besar yang membuat para penguasa itu menggelepar tak berdaya. Kasus Yahya Zaini, politisi kuat dari partai kuat, Partai Golkar, harus "menangis-meradang" akibat skandal honeymoon-nya dengan Maria Eva yang dipreteli media massa. Demikianlah, Napoleon Bonaparte selalu terbirit-birit menghilang bila melihat jurnalis mendekatinya.

Lebih jauh, bila manusia mau jujur mengakuinya, sesungguhnya para nabi atau tokoh sentral agama-agama yang ada, dan yang pernah ada, di dunia ini bisa terkenal hingga ke ujung-ujung dunia dan "ke Negeri China", tidak terlepas dari peran media massa. Yesus-nya kaum Kristiani atau diakui sebagai Nabi Isa oleh kalangan Islam bukanlah siapa-siapa pada awalnya. Ia hanyalah seorang anak tukang kayu yang miskin. Dan bahkan banyak orang percaya bahwa ia hanya seorang manusia "kurang waras" atau mungkin seorang anak yang memiliki IQ di atas rata-rata, atau semacam anak indigo yang dikenal bertebaran di mana-mana saat ini. Namun, kehadiran Yesus kemudian mulai merambah ranah pengetahuan manusia di seputaran Timur Tengah dan daerah Balkan sekitar 3 tahun setelah ia wafat. Ketenarannya itu merupakan hasil kerja media massa yang dipromosikan dengan ungkapan "kabar gembira" melalui surat-surat Paulus, para penginjil, dan kemudian secara massal melalui kitab sucinya orang Kristen, Alkitab. Alkitab, yang sering diartikan sebagai kitab (buku) di atas segala kitab, tidak lain merupakan media massa yang telah menjadi mesin informasi tentang Yesus.

Seperti halnya dengan ketenaran Yesus, nabinya kaum muslim, nabi Muhammad, juga sama dan sebangun, terkenal melalui jalur media massa yakni Al-Quran. Bukankah Al-Quran dapat diartikan quran di atas segala quran? Kata "quran" adalah bahasa Arab yang asal katanya "kara'a", yang berarti "dia membaca" atau "dia mengatakan". Kata quran ini juga merepresentasikan kata "keryana", yang artinya "catatan bacaan" atau bahan pelajaran. Kata quran inilah yang diadopsi masuk ke dalam perbendaharaan bahasa Indonesia menjadi "koran". Secara harfiah, koran tidak lain adalah surat kabar. Surat kabar adalah salah satu bentuk real media massa yang isinya berupa informasi hasil olahan pengelola surat kabar. Dengan pemahaman ini, dapat dibangun asumsi bahwa kebudayaan Islam yang terbangun sejak awal hingga kini tidak lain merupakan hasil bentukan media massa nabi Muhammad yang disebut Al-Quran.

Media massa Alkitab dan Al-Quran telah menentukan kedua figur itu untuk menjadi nabi, pemimpin, panutan, idola, juru selamat, bahkan menjadi Tuhan. Seandainya Alkitab dan Al-Quran menceritakan tokoh Yesus dan Muhammad sebagai iblis, kuntilanak, atau genderuwo, maka akan seperti itulah wajah dan sosok keduanya. Sama seperti almarhumah Lady Diana yang jadi legenda calon permaisuri pujaan di seantero dunia akibat pemberitaan media massa tentangnya. Padahal ia tidak lebih dari seorang wanita binal, berpacaran sana-sini semasa hidupnya dengan alasan kesepian semenjak berpisah dengan suaminya, Pangeran Charles, pewaris tahta kerajaan Inggris. Sesungguhnya media massa, dalam bentuk apapun, dimanapun, dan kapanpun eksisnya media massa itu, pada hakekatnya merupakan media informasi yang mewarisi kekuatan Tuhan. Dan olehnya, hidup dan kehidupan manusia sepanjang sejarahnya ditentukan oleh media massa.***

Catatan:
1. Artikel ini pernah dimuat di harian online KabarIndonesia
;
2. Sumber image: http://blogswork.wordpress.com/2007/03/

Anda punya berita, artikel, foto, atau video? Publikasikan di sini
Kontak Redaksi di redaksi@pewarta-indonesia.com



my personal room at http://saintlover.blogsome.com
 
Celoteh Wilson Lalengke - Kekuatan Media Massa = Kekuatan Tuhan?
Oleh : Wilson Lalengke
Kamis, 29 Januari 2009 04:19

__._,_.___
Recent Activity
Visit Your Group
Yahoo! Finance

It's Now Personal

Guides, news,

advice & more.

New web site?

Drive traffic now.

Get your business

on Yahoo! search.

Share Photos

Put your favorite

photos and

more online.

.

__,_._,___

Tidak ada komentar: